Sosok Wanita Cantik Di Bima Guru SDN Membidangi Usaha Kuliner Memperhatikan Angka Pengangguran
Foto : Guru SDN Tunggu Bima.
Kota Bima ~ Intel Media Bima ~ Wanita Cantik Desa Runggu Kecamatan belo Kabupaten Bima, Kelahiran 4 Juli 1997, Anak kedua Dari Tiga Bersaudara. Yang Viral Di Media Sosial (Medsos) sedang di perbincangkan Oleh Netizen Menganai Karirnya, Pada Awal Seorang Guru SDN Yang Membidangi Beberapa Organisasi Dan Komunitas ini sekarang Sebagai Kuliner Sempat Di Wawancarai Oleh Aryadin Pimpinan Intel Media Bima, Ditempat Kerjaan. Dirinya di (Panggita Food / Art ) di bagian keuangannya, yang mengatur semua pemasukan serta pengeluaran.
Berawal Wanita Cantik ini Menjelaskan Sejak Awal Saya Kuliahan selama 4 tahun Di Bali, terus saya bilang Saat pulang Ke kampung halaman dan saya bergabung dalam satu komunitas Sanggar Seni yang ada di desa, Dan sayapun Melihat banyak sekali Para generasi Muda yang duduk-duduk nggak jelas kegiatan itu.
Tentunya Kami Dalam satu Komunitas Sanggar Seni Bertekad Untuk Berdialog langsung Tentang Banyaknya Angkah Pengangguran Di kota Dan Kabupaten Bima, Bahwa ini harus dimulai dari pendiri Awal, Kami tertarik Yang Di promosikan Oleh Pihak Dinas pariwisata Kota Bima, terkait Dengan Kedai Kopi Dan Lain-Lain, Makan pertamanya itu Kami Melakukan Koordinasi Ke pihak Dinas Akhirnya disepakati, dan saat itu kami mau bangun di depan bandara, tapi Melihat Objektif pengunjung Agak Kurang.
Sedangkan Beberapa Para Guru Ini, Mengedepankan Pengajaran Di Pagi Sampai Siang, Jadi Tidak mendukung kalau Dibangun Kedai Kuliner Depan Bandara, Karena mendengar Ada Promosi dan penawaran Untuk Usaha Di Destinasi Pantai Lawata, Maka dari itu Kami Menempatkan dilawata untuk kuliner.
Reldiastuti Putri, Yang Biasa disapa dengan ( Puput) Melihat Problem pengangguran sudah menjadi momok yang begitu menakutkan khususnya di negara-negara
berkembang seperti di Indonesia Lebih-lebih Di Kota Dan Kabupaten Bima.
Kondisi ini menghadapkan kita pada situasi untuk mencari solusi mengatasi pengangguran. Salah satunya adalah melalui usaha informal di bidang kuliner yang memberi kesempatan kepada pedagang kaki lima (PKL) dalam mengembangkan usahanya.
Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan upaya-upaya yang bisa ditempuh untukmenjaga
eksistensi (PKL) sebagai soko guru dalam mengatasi pengangguran seiring dengan perkembangan wisata kuliner khusus di Kota Bima Dan Kabupaten Bima. Penelitian ini menggunakan Metoda penelitian kualitatif dengan pengambilan sampelnya dilakukan secara convenience sampling.
Metode kualitatif digunakan untuk menyusun formulasi rancangan tindakan pengelolaan dan pengembangan PKL kepada Pemkot dan Pemkab, paguyuban PKL. Hasil yang dapat disimpulkan bahwa sektor informal ini dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah kota dalam mengurangi pengangguran di mana kontribusi ini tercipta
karena PKL masih eksis di tengah-tengah perkembangan wisata kuliner.
Kata kunci : pengangguran, sektor informal, wisata kuliner, pedagang kaki lima (PKL). Kota Bima merupakan kota Metropolis. Dengan keberadaannya sebagai kota Metropolis maka banyak warga pedesaan berbondong-bondong menuju kota (Urbanisasi) untuk mencoba mengais rejeki di Kota Bima dengan membuka usaha atau mencari pekerjaan.
Namun yang terjadi banyak di antara mereka yang gagal mencari peluang usaha. Salah satu jalan yang mereka tempuh adalah membuka usaha menjadi Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan modal dan keterampilan yang minim.
PKL ini muncul dari akibat tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat (kecil) yang tidak mampu mendapatkan penghasilan. Keberadaan mereka semakin menjamur terutama di obyek-obyek vital perkotaan.
Sektor pariwisata di kota Bima memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik bagi wisatawan dan investor, tiga diantaranya ialah wisata Lawata, Ule, dan Kolo, wisata kuliner dan
wisata rekreasi.
Wisata Pantai Lawata meliputi, keindahan yang mempunyai nilai sejarah. Wisata kuliner adalah tempat-tempat favorit untuk bersantap. Sedangkan rekreasi adalah fasilitas-fasilitas hiburan dan acara.
Tiga bidang inilah yang akan terus dikembangkan untuk mendukung percepatan dunia pariwisata di Kota Bima. Sejak Di dirikanya sudah dikenal sebagai sentra kuliner bagi kota di sekitarnya karena memiliki jenis makanan khas yang berbeda dan terkenal.
Mulai dari restoran dan rumah makan untuk kalangan menengah ke atas hingga warung tenda kaki lima untuk kalangan menengah ke bawah yang ada Di kota Bima, masakannya tidak kalah lezatnya. Seperti yang hingga kini masih menjadi rujukan wisatawan Lokal adalah.
Dalam Kemasan usaha Yang Diberikan Nama ( PANGGITA FOOD & ART ) Tantangan Makan. Sirosake (Singkong, Roti, Salome, Kentang ).
1. Sibad / Singkong Balado.
2. Sisuke / Singkong Susu keju.
3. Sigombal / Singkong Goreng Sambal.
4. Robarju / Roti Bakar keju.
5. Robarcok / Roti Bakar coklat
6. Robartiras / Roti Bakar Tiramisu.
7. Salome Tumis.
8. Salome Goreng.
9. Kentang Crispy.
Bahkan tidak jarang nama digunakan sebagai branding yang mempunyai image bagus untuk mendongkrak penjualan.
Perkembangan wisata kuliner di kota Bima didukung dengan posisinya sebagai kota Induk Yang Ada di Kota Dan Kabupaten Bima, Tentu sebagai penopang
perdagangan, pendidikan, dan maritim yang membuat perantau dari luar kota berdatangan.
Kondisi kota yang aman, bersih dan udara yang sejuk yang didukung oleh semakin banyaknya taman kota yang dibangun membuat kota Bima semakin nyaman untuk dijadikan sebagai tempat wisata,
berdagang, peristirahatan maupun tempat menuntut ilmu.
Karena itu mudah-mudahan, yang memantapkan diri sebagai destinasi wisata internasional dengan (yang berarti gemebyar dan bersinar, diharapkan seluruh sudut kota menjadi daya tarik, mulai dari pusat, barat, timur, utara dan selatan), berkepentingan untuk menciptakan ikon-ikon wisata kuliner yang variatif dan unik dengan basis PKL.
"Pemkot Bima sendiri mengakui, jika kuliner menjadi salah satu kekuatan atau komoditas pariwisata Bima Dan Lainnya selain shopping, Memperhatikan pada gambaran di atas maka research question yang muncul dalam penelitian ini adalah bagaimanakah menjaga eksistensi PKL sebagai soko guru dalam mengatasi pengangguran seiring dengan perkembangan wisata kuliner di kota Bima yang didirikannya Baru Satu Bulan," Ujarnya Puput.
"Sebagaimana Hal ini Pemerintah Kota Bima Dan Pemprov NTB, Mendorong Dalam faktor yang mempengaruhi keberhasilan paguyuban PKL terhadap pembinaan-pembinaan kepada anggota," Tandasnya.
Harapan dari Kami Ditunjukkannya dengan (1) adanya rasa aman dan tenteram dalam menjalankan usahanya karena tidak khawatir dari penggusuran. (2) kesulitan modal bisa diatasi melalui pinjaman koperasi dan bank. (3) munculnya kesadaran berkoperasi. (4) peningkatan pendapatan. (5) munculnya kesadaran untuk menjaga kebersihan, ketertiban dan keindahan lokasi. (6) pengetahuan dan pemahaman tentang Peraturan Daerah. (7) keahlian dalam menjalankan usaha. (8) munculnya rasa solidaritas Unsur kebersamaan dan kesamaan di bidang usaha, lokasi kerja, dan daerah asal yang mereka terapkan, ternyata sangat efektif dalam melakukan pembinaan terhadap PKL," Pungkasnya Puput. (Red/IMB/01).